Spirit Kalimat Tauhid

Oleh H.Usep Romli H.M.

garutexpress.id- Kalimat tauhid “La ilaha illallah” (Tiada ilah – sembahan — selain Allah) menjadi dasar bagi tegaknya langit dan bumi. Juga menjadi dasar bagi penciptaan semua mahluk. Jiwa dan rahasia kalimat tauhid, adalah pengesaan terhadap Allah yang Maha Tinggi PujianNya, Maha Suci dan Maha Berkah AsmaNya, yang Maha Besar Kedudukannya, dan tak ada  yang menyerupai dan menyamaiNya.

“Pengakuan itu harus diikuti kenyataan sikap dan tindakan, berupa pengagungan dan kecintaan kepadaNya. Disertai rasa takut dan harapan kepadaNya.  Tidak takut oleh apapun dan siapapun, selain Dia. Tidak berharap pada apapun dan siapapun, selain Dia. Spirit tauhid mendorong setiap manusia menjadi mahluk mandiri,  untuk selalu beribadah dan beramal saleh, awas waspada menghadapi masa depan kehidupan di akhirat.”

Demikian pendapat Ibnu Qayyim al Jauziyah (691-751 Hijriah), dalam kitabnya “Al Jawabul Kafi liman Wa’adaud Dawa.”

Ibnul Qayyim menegaskan, semua itu terkumpul dalam satu kalimat “La ilaha illallah”. Karena itu, Allah mengharamkan neraka bagi orang yang telah benar-benar merealisasikan hakikat kesaksiannya, sebagaimana firman Allah SWT Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya” (Q.s.al Ma’arij : 35).

Maka hidupnya roh seseorang, tergantung kepada hidupnya kalimat ini di dalam jiwanya, sebagaimana jasad bergantung kepada hidupnya jiwa. Siapa saja yang,mati dalam keadaan berpegang teguh pada kalimat tauhid ini, surgalah tempatnya, dan kehidupannya lebih nyaman. (Q.s.an Naziat : 40-41).

Menurut Imam Fakhrurazi, dalam “Ajaibul Quran”, kalimat tauhid “la ilaha illallah”, merupakan seutama-utama dzikir. Ketika tertimpa musibah, setiap orang, bahkan yang ingkar sekalipun, pasti akan meminta perlindungan kepada Allah, dengan mengucapkan kalimat itu. Apalagi orang beriman, ketika mendapat ujian pasti akan berlindung dan memohon pertolongan Allah dengan kalimat tauhid ini.

Pada saat Firaun tenggelam, dan nyawanya sudah di tenggorokan, ia berkata : “Saya percaya tak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil” (Q.s.Yunus : 90). Adapun orang beriman, dan bertakwa  seperti Nabi Yunus, ketika berada dalam perut ikan paus di dasar lautan, mendapat pertolongan setelah membaca “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin” (Q.s.al Abiya : 87).

Tiada sembahan selain Engkau, ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang dzalim. Mengapa Yunus mendapat pertolongan, sedangkan Firaun tidak, padahal sama-sama membaca kalimat tauhid?”

Dalam mengucapkan kalimat tauhid, Yunus sangat bersungguh-sungguh. Penuh khusyu dan kesaksian. Menyadari kelemahan dan ketidakberdayaannya, serta mengkui tulus segala dosa dan kedzalimannya….”Maha Suci Engkau, ya Alloh, sesungguhnya aku termasuk orang-orang dzalim.”

Sedangkan Firaun mengucapkannya dalam keadaan hampa, dan bertaklid (ikut-ikutan) kepada Bani Israil. Bukan atas dasar kerendahan hati dan mengagungkan kalimat tauhid tersebut. Firaun mengucapkan kalimat tauhid itu bukan dalam rangka ibadah. Ia hanya meminta diselamatkan saja, tanpa melepaskan sikap kesombongan yang selama ini ia praktekkan.

Allah SWT terlebih dahulu memerintahkan manusia terhadap pengenalan tauhid, daripada perintah memohon ampun kepadaNya. FirmanNya:

“Maka ketahuilah (olehmu), bahwasanya tak ada sembahan selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan dosa-dosa orang beriman” (Q.s.Muhammad : 19).

Kalimat tauhid “la ilaha illallah”, harus menjadi kebiasaan ucapan dan tindakan sehari-hari. Sebagai pelindung dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah), dan pengarah kepada kebaikan serta  kebajikan.Memperkuat keimanan dan keihsanan, sehingga menjadi paku pengukuh hidup hingga akhir hayat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Barang siapa yang akhir ucapannya “La ilaha illallah”, niscaya ia akan masuk surga” (Hadits Sahih).***

Penulis adalah Wartawan senior tinggal di Cibiuk-Garut.***

 


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here