Sang Ibu Tukang Cuci, Jadi Motivasi Fitriani Meretas Asa ke Pentas Dunia

garutexpress.id- Fitriani. Nama dia memang belum begitu setenar Bellaetrix Manuputty atau Adriyanti Firdasari dalam panggung bulutangkis, tapi prestasinya cukup moncer setahun belakangan ini. Siapa dia?

Remaja belasan tahun menjadi pusat perhatian di GOR Lila Bhuana, Denpasar pada 25 Januari. Kala itu, dia membuat kejutan dengan mengalahkan Firda, sapaan karib Adriyanti Firdasari, pemain berpengalaman dan pernah jadi nomor satu nasional yang memperkuat Jaya Raya Jakarta, dengan skor 13-21, 12-21 pada laga perdana babak penyisihan Grup C Djarum Badminton Superliga 2015. Kemenangan itu menghidarkan USB Blibli dari hasil memalukan, meskipun tetap kalah 2-3.

“Enggak nyangka saya bisa menang. Soalnya waktu tampil itu sebenarnya sempat ada rasa deg-degan juga, namanya lawan sudah senior kan. Tapi ada rasa pengen membuktikan juga,” ungkap Fitri ketika berbincang dengan detiksport.

Bagi perempuan kelahiran Garut, Jawa Barat 27 Desember 1998 tersebut kemenangan itu menjadi penampilan terbaiknya. Sebab, baru setahun terakhir ini dia naik kelas ke senior. Kebersamaan di pelatnas memang pernah dirasakan Fitri, tapi dia masih jadi anak magang di Cipayung pada 2013. Sebaliknya, Firda sudah jadi pemain paling senior di tunggal putri.

Barulah di tahun berikutnya, Fitri mendapatkan kesempatan menjadi salah satu penghuni pelatnas. Peluang-peluang lebih besar pun didapatkan dia dalam persaingan bulutangkis. Dia pun yakin suatu hari bakal jadi andalan nasional seperti Firda.

Meski begitu, Fitri tak pernah melupakan keluarga dia. Komunikasi dengan kakaknya, Rohmat Abdul Rohman, masih terus terjalin. Acapkali si kakak menelepon untuk memberikan semangat atau mengoreksi penampilan dia.

Seperti ketika Fitri tampil kurang oke saat menghadapi pemain Hong Kong Yip Pul Yin yang memperkuat Gifu Tricky Panders, belum lama ini. Fitri menyerah dalam dua gim langsung 14-21, 18-21. Ia juga gagal menyumbangkan poin untuk timnya usai digebuk pemain Thailand rangking 22 dunia, Nicahon Jindapon, 12-21, 8-21 pada pertandingan Rabu (28/1/2019) lalu.

“Dapat teguran dari kakak lewat telepon. Dia tanya kenapa aku mainnya jelek, ketinggalan jauh sekali angkanya. Ya, memang kemarin merasa kurang lepas aja permainannya, jadi hasilnya seperti itu,” kata Fitri.

Dengan profesi yang sama, dua kakak beradik itu memang sudah biasa saling kritik. Berkat kakaknya pula, Fitri mengenal bulutangkis.

“Pertamanya lihat kakak latihan bulutangkis, dia atlet klub Exist, jadi dari situ jadi ikutan pengen jadi atlet. Kayaknya enak gitu, Mba, mainnya. Trus bisa jalan-jalan juga kan,” ujar pengidola Susi Susanti itu.

Fitri juga tak pernah lupa untuk menyisihkan hadiah dari turnamen kepada orang tuanya. Dia sangat paham pengorbanan yang sudah diberikan Dede Abdul Rochman dan Eti Sukmiati. Raket, sepatu, dan bahkan kedua orang tuanya rela meninggalkan profesi lama sebagai pedagang kaki lima menjadi tukang cuci di klub Exist, klub di mana Fitri dan kakaknya bergabung.

“Bapak ibu kerjanya pedagang kaki lima, itu waktu aku masih kecil. Nah, pas saya pindah dari klub Genesha ke Exist, baru ayah ibu juga ikut pindah. Kami nginap di asrama bersama-sama. Bapak ibu di sana juga kerjanya bantu-bantu cuci baju atlet di sana,” tuturnya.

‎Kenyataan itu sama sekali tak mengganggu Fitri. Sebaliknya, dia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk mengubah ekonomi keluarganya agar bisa lebih baik lagi. Makanya ketika ia mendapatkan hadiah uang dari prestasinya menjadi juara Bupati Cup Tangerang 2005, buru-buru ia langsung menyisihkan uangnya untuk kedua orang tuanya.

“Ngapain malu‎. Fitri bisa jadi seperti ini juga berkat dukungan dari orang tua. Mereka selalu mendukung Fitri setiap mau bertanding, didoain supaya menang,” katanya.

Kini, Fitri tengah menjajaki kariernya sebagai seorang pebulutangkis profesional. Dia juga menyimpan mimpi besar tak sekadar menjadi atlet pelatnas, dia juga bercita-cita untuk menjadi juara dunia.

“Cita-cita saya dari dulu ingin masuk pelatnas. Dan, jika Allah mengijinkan saya ingin menjadi Juara Dunia,” tandasnya.

“Kalau target tahunnya belum bisa pastikan karena poin saya sampai sekarang juga masih sedikit. Makanya paling perbanyak turnamen yang diikuti. Tapi turnamen mana saja pelatih yang tahu karena program semua di beliau,” terang dia.

Satu jalan sudah didapatkan. Dia menjadi punggawa pelatnas sejak tahun lalu. Sejauh ini, Fitri sedang dalam masa penjajakan di ajang internasional. Dia menjadi semifinalis International Challenge di Bahrain. Dia juga baru saja menjadi perempatfinalis Maybank Malaysia Kuching International Challenge 2014.

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”

Kalimat R.A Kartini itu boleh jadi merupakan motivasi pebulutangkis Indonesia, Fitriani, dalam memaknai perjalanan prestasinya di bulutangkis tunggal putri.

Datang dari keluarga kurang mampu, Fitriani membangun asanya untuk bisa menjadi pebulutangkis terbaik di kancah internasional.

Fitri dikenal setelah menjadi pusat perhatian di GOR Lila Bhuana, Denpasar, pada tiga tahun lalu. Saat itu, dia membuat kejutan dengan mengalahkan Firda, sapaan akrab Adriyanti Firdasari, pemain berpengalaman dan pernah jadi nomor satu nasional yang memperkuat Jaya Raya Jakarta, pada laga perdana babak penyisihan Grup C Djarum Badminton Superliga 2015.

Kemenangan ini sekaligus sebagai tolok ukur dirinya yang baru saja naik kelas senior kala itu. Perlahan tapi pasti, Fitri pun kerap membuat kejutan dengan beberapa kali tampil impresif di beberapa turnamen internasional. Tak terkecuali saat Piala Uber dua tahun lalu. Dia mengalahkan tunggal kedua Bulgaria, Petya Nedelcheva, yang telah menjalani karier profesionalnya sejak 1999. Sementara laga Piala Uber masih perdana untuknya.

Saat ini pun, Fitri menjadi satu-satunya tunggal putri berperingkat paling tinggi di usia yang relatif muda, 19 tahun, ketimbang Hana Ramadini, dan Dinar Dyah Ayustine, yang usianya terpaut tiga tahun.

Akan tetapi, Fitri tak puas begitu saja. Dia memiliki ambisi untuk dapat membangkitkan tunggal putri seperti zaman dulu. Dia mencontohkan sosok Susi Susanti yang menurutnya merupakan Kartini di zamannya.

“Ci Susy itu perjuangannya keras banget makanya bisa sampai seperti sekarang. Beliau juara setiap turnamen, All England, Olimpiade, itu tentu butuh perjuangan. Makanya, sebisa mungkin saya ingin berprestasi seperti dia. Bahkan jika bisa lebih,” kata Fitri kepada detikSport, Jumat (20/4/2018).

Dia pun menyadari, prestasi yang tinggi tak akan berhasil tanpa adanya perjuangan. “Tentu saya berusaha dengan cara latihan lebih keras lagi. Selain itu, hasil pertandingan dijadikan pembelajaran untuk ke depan seperti apa,” katanya kemudian.

Bukan sekadar ingin, pemain berperingkat 34 dunia ini, juga kerap dibuat gemas karena sulitnya menyetarakan prestasi tunggal putri dengan sektor lain, seperti ganda putra, ganda campuran, bahkan tunggal putra yang kini tengah naik daun.

“Gemas sih pasti. Tapi yang penting kami harus berusaha dulu semaksimal tinggal tunggu waktunya saja. Masalah iri (dengan sektor lain) enggak sama sekali justru menjadi motivasi bagi saya bahwa tunggal putri itu bisa,” pungkasnya. (*)

Sumber : detiksport


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here