“Copy Paste Idul Adha”

Oleh Arif Ramdan

TEKNOLOGI Komunikasi sudah sangat modern dan terus berkembang memanjakan manusia sebagai pengguna utama mesin-mesin canggih tersebut.

Industri perangkat komunikasi menyuguhkan kemudahan bagi manusia untuk berbicara saling sapa dalam beragam bentuk non verbal. Simbol-simbol dan teks diproduksi untuk mewakili hajat manusia berkomunikasi di era digital seperti saat ini.

Cara kita silaturahmi juga telah terwakili dengan kehadiran piranti lunak jejaring sosial media yang tersedia banyak ragam. Momentum hari raya seperti Idul Adha kali ini, adalah saat di mana lalu lintas komunikasi di jagat sosial media menjadi super sibuk.

Dulu di awal kehadiran telepone genggam dengan fasilitas pesan singkat (short message service), kita biasa berkirim pesan ucapan hari raya. Di saat jutaan orang kirim pesan yang sama, pesan kita bisa tertunda lama dan baru terkirim jika lalu lintas pesan mulai lenggang.

Kehadiran layanan pesan yang canggih saat ini telah mengubur kebiasaan kita mengirim kartu ucapan selamat hari raya. Kartu-kartu ucapan itu, menjadi memori kolektif kita di masa jadul dahulu.

Kita pun mendapat kemudahan memproduksi pesan mandiri melalui aplikasi gratisan yang tersedia di playstore smartphone milik kita. Tak perlu sekolah atau kursus untuk membuat pesan bergambar selamat hari raya. Semua serba mudah!

Sejak 9 Dzulhijjah, saya dan anda sudah tentu menerima banyak pesan selamat Idul Adha. Beragam bentuk kata-kata yang dirangkai indah, termasuk pesan bergambar hilir mudik di jaringan WhatsApp dan jejaring aplikasi percakapan lain yang familiar di masyarakat kita, seperti line, telegram, facebook messenger, dan instagram.

Di awal penggunaan layanan pesan singkat melalui media sosial, bisa jadi kita amat bersungguh-sungguh menulis rangkaian ucapan selamat. Sehingga untaian kalimat begitu meresap terbaca si penerima di kali pertama.

Namun, saat ini kita kehilangan kesan dan rasa saat menerima ucapan melalui WhatsApp. Apa pasal? Untaian kalimat terkirim sama persis dengan yang dikirim oleh sahabat, teman, dan kerabat lain di kali pertama. Hanya nama di ujung yang berganti, isinya sama persis, dari “Ahmad dan Keluarga” menjadi “Zainuddin dan Keluarga.” Dari “Hayatun” menjadi dari “Shabrina Majid” atau dari “Nisa” menjadi dari “Maman dan Neti Sekeluarga”.

Kita pun menjadi tidak enak tatkala tak berkirim ucapan selamat atau membalasnya.  Silaturrahmi, memang tetap terjaga. Minimal kita tahu via sosial media kabar terakhir teman kita.

Anda dan saya mungkin sempat mengalami kerepotan membalas banyak pesan ucapan hari raya yang masuk via WhatsApp. Benar kan?

Tetapi ada yang lebih membuat saya repot sekaligus bingung. Tahun ini, saat Idul Fitri dan Idul Adha saya menerima banyak ucapan selamat Idul Adha yang berbeda antara nama asli pengirim dalam kontak dengan nama di ujung pesan Idul Adha. “Salam Hangat, “Ghafar dan Nisa”.

Padahal, kontak nomor  yang saya kenal selama ini dan tersimpan baik dengan tampilan foto diri Kang Hayat. Itu Hayat dan Teh Ningrum keluarga yang saya kenal saat bertetangga dulu di Bogor. Apakah Kang Hayat berganti nama menjadi Ghafar?  Dan Nisa adalah nama baru Ningrum?

Saya berbaik sangka saja, Kang Hayat dan sejumlah sahabat lain, sangat terlalu sibuk dan tidak cukup waktu membalas pesan saya sebelumnya, sehingga mereka cukup menyalin (copy) kiriman ucapan Idul Adha sebelumnya  dari teman yang lain dan menempelnya (paste) pada jaringan pesan pribadi untuk membalas ucapan saya sebelumnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H, semoga spirit Ibrahim alaih salam dapat kita teladani. (*)

Arif Ramdan adalah dosen pada Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.***


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here