Madinatul Hikam, Pondok Pesantren Modern Bernuansa Salafi di Garut Selatan

garutexpress.id- Berada di kawasan pegunungan Garut selatan yang hijau nan asri, tepatnya di Kampung Pacing, Desa Peundeuy, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Pondok Pesantren Madinatul Hikam didirikan semata untuk mencetak santri-santri unggulan yang shaleh/shalehah serta berakhlakul karimah.

Pondok pesantren yang dipimpin Drs KH. Bunyamin Iskandar, MM., salah seorang Kiai kharismatik di Garut selatan ini adalah sebuah lembaga pendidikan Islam terpadu dengan sistem pendidikan 24 jam (boarding school)  untuk jenjang setingkat SMP-SMA.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam modern bernuansa salafi, Pesantren Madinatul Hikam menerapkan beberapa peraturan ketat untuk para santrinya. Selain diharuskan berbusana syar’i, salah satu budaya di pesantren ini, para santri dan para pendidiknya di lingkungan kompleks pesantren diwajibkan menggunakan tiga bahasa yang telah ditentukan, yakni bahasa Arab, Indonesia dan Inggris. Dengan aturan ini diharapkan, para santri setelah lulus nantinya mahir menggunakan ketiga bahasa tersebut.

Ada beberapa program unggulan di pesantren ini, di antaranya Nahwu shorof, Tafsir Al Qur’an, Tahfidz, Pelatihan Da’i profesional, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Untuk mencetak para santri unggulan, Pesantren Madinatul Hikam memiliki sejumlah fasilitas yang refresentatif, mulai dari asrama putra/ putri, ruang belajar lengkap, aula, perpustakaan, masjid jami dan lapangan olahraga. Disamping itu, kolam ikan yayasan plus sumber air artesis nan jernih menjadi pelengkap pesantren ini.

Kolam ikan di kompleks Pondok Pesantren Madinatul Hikam dengan air jernihnya.***

Sebagai bentuk keseriusannya dalam mencetak santri unggulan, Madinatul Hikam lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Hal tersebut dibuktikan saat memasuki tahun ajaran baru, Pondok Pesantren Madinatul Hikam selalu membatasi peserta didik baru.

Setelah melalui tahapan seleksi, peserta didik baru kemudian ditetapkan sesuai kuota. Dalam tahun ajaran 2019, untuk tingkat SMP hanya diterima 30 santri laki-laki dan 30 santri perempuan. Sementara untuk tingkat SMA , santri laki-laki 24 dan santri perempuan 24 orang.

Dalam mendidik para santrinya, sebagai sesepuh Pondok Pesantren Madinatul Hikam, Ajengan Iskandar, begitu sapaan akrab KH Iskandar Bunyamin, dikenal sangat telaten memperhatikan setiap santrinya. Bahkan, Kiai dengan jenggot putihnya yang khas ini menganggap semua santrinya tak ubahnya sebagai cucunya sendiri.

Hal tersebut terbukti, saat ada seorang santrinya yang bernama Nasmah (13) didera sakit dan harus dirawat inap di puskesmas. Ajengan Iskandar membawa santrinya sendiri ke puskesmas, Ia pun menugaskan beberapa santriwati untuk menjaga Nasmah saat dalam perawatan.  Tak sampai disitu, Ia juga beberapa kali mengecek, berpesan kepada kepala puskesmas untuk menjaga dan merawat benar-benar santrinya tersebut.

Ditemui usai menengok sekaligus memberi semangat kepada santrinya yang tengah sakit, Kiai Iskandar sempat berbincang kepada Kepala Puskesmas Peundeuy, kedepannya ada rencana untuk teken MoU dengan pihak pesantren.

MoU tersebut diharapkan bisa menjamin kesehatan para santrinya yang tengah mondok di pesantren yang dipimpinnya. “Pa, kapus (Kepala Pusksesmas) nanti kita bicarakan untuk teken MoU dengan pesantren. Kita berharap pihak puskesmas bisa bersinergis dengan pesantren, khusus terkait kesehatan para santri,” tuturnya, Selasa (23/7/2019).

Dua orang warga didampingi santri berpose di depan masjid di kompleks Pondok Pesantren Madinatul Hikam yang tengah dalam proses pembangunan, Selasa (23/7/2019)***

Seiring berjalannya, waktu Yayasan Madinatul Hikam dengan pesantren moderennya yang potensial terus membenahi sejumlah fasilitas, mulai dari lab komputer yang akan segera dibangun. Hingga yang tengah berlangsung saat ini, yakni memperluas masjid menjadi dua lantai. Khusus untuk pembangunan masjid, diharapkan masyarakat bisa ikut andil memberikan sumbangsihnya. Karena memang masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren itu tak hanya digunakan para santri, namun untuk kaum Muslimin semua yang hendak beribadah.

“Alhamdulillah, kita terus berbenah untuk melengkapi fasilitas di pesantren ini, salah satunya masjid jami yang juga bisa digunakan kaum Muslimin semua. Jadi kami terbuka menerima zakat, infak shdaqah dari masyarakat, para donatur, kaum Muslimin dan para aghnia untuk pembangunan masjid ini,” pungkasnya. (*)

Penulis : Kang Cep

 

 

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here