Seniman & Budayawan Garut Butuh Perda Perlindungan Seni Budaya Lokal

Muhtarom, M.Ag, Ketua Yayasan Adat Kampung Dukuh, Kecamatan Cikelet, Garut Selatan.***

garutexpress.id – “Jati  kasilih ku junti” (tuan rumah dikalahkan oleh tamu-red). Demikian, peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi budaya masyarakat Sunda, khususnya di Kabupaten Garut saat ini . Alih-alih bisa mengembangkan budaya karuhun yang adiluhung dan sarat makna, sekadar melestarikannya pun sulit rasanya.

Ketidakpedulian umumnya masyarakat diperburuk oleh sikap apatis pemerintah setempat, membuat seni budaya khas garutan semakin kehilangan jati dirinya. Bahkan, sejumlah seni buhun yang dulu sempat turut melambungkan nama Garut di pentas seni nasional,  dewasa ini terancam punah. Sebut saja cigawiran, rengkong, terbang sejak, juga seni tari topeng koncaran.

“Seni budaya memang bukan urusan wajib. Tetapi tidak berarti pemerintah bisa enak-enak berpangku tangan. Seharusnya disadari bahwa seni budaya lokal itu merupakan aset penting yang bisa dijadikan hajat hidup khususnya oleh para pelaku seni di Kabupaten Garut,” tandas salah seorang budayawan asal Garut Selatan, Muhtarom, M.Ag.

Aom – sapaan akrab lelaki trah Kampung Dukuh, Kecamatan Cikelet,  menilai perhatian pemerintah terhadap perkembangan terlebih pelestarian seni budaya sangat minim. Sebagai leading sektor, Disbudpar Garut sendiri malah asyik mengurusi proyek-proyek perbaikan infrastruktur objek wisata dibanding membangun marwah seni budaya yang menggambarkan keadiluhungan jiwa masyarakat Garut.

“Bicara menghormati seni budaya, mestinya kita bisa belajar ke Provinsi Bali. Pemerintah dan masyarakat di sana, sangat konsern dalam mengembangkan dan melestarikan sendi budaya lokalnya,” terang Ketua Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata (FK-Kompepar) Kabupaten Garut ini.

Karena itu, kata Aom, Bali menjadi salah satu tempat wisata yang mendunia. Sebetulnya itu bukan karena alamnya yang paling utama, melainkan kekayaan seni budayanya. Sebab, kalau bicara kekayaan alam, Kabupaten Garut justru jauh lebih kaya dibanding Pulau Bali.

Salah satu bukti bahwa Bali lebih “menjual” budaya, jelas Aom, yaitu Desa Trunyan, Kabupaten Bangli. Wisatawan mancanegara datang ke sana bukan ingin menikmati keindahan alam. Melainkan karena penasaran untuk melihat dari dekat, sejumlah mayat yang diletakan begitu saja di atas tanah sampai jadi tengkorak.

“Coba kita perhatikan saja kalau ada upacara ngaben (menbakar mayat). Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara pasti berebut untuk mengabadikan prosesi ngaben. Itulah bukti bahwa budaya di sana lebih menjual bagi para wisatawan. Ya, bukan berati di Garut harus seperti itu!” tandas Aom.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Aom berpendapat, kalau ingin seni budaya Garut berkembang dan lestari agar bisa “dijual”, butuh diperkuat dengan mewujudkan regulasi atau peraturan daerah (perda) yang spesifik tentang itu.

Perda dimaksud, termasuk di dalamnya pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat adat. Mengingat mereka merupakan basis budaya karuhun yang masih ada. Juga karena laboratorium kebudayaan Sunda hari ini ada pada masyarakat adat.

Di Kabupaten Garut ada lima masyarakat adat yang harus dilindungi sebagai  bentuk pengakuan pemerintah daerah terhadap mereka. Adalah Kampun Dukuh di Kecamatan Cikelet, Kampung  Pulo (Kecamatan Leles), Kampung Batuwangi  (Kecamatan Singajaya), Sancang  (Kecamatan Cibalong), dan Ciburuy (Kecamatan Bayongbong).

“Kita butuh perda khusus tentang perlindungan seni budaya lokal (Garut). Tanpa itu, sampai kapan pun soal seni budaya tetap hanya akan dianggap angin lalu. Karena memang tidak termasuk ke dalam urusan wajib pemerintah,” jelas Aom, yang juga pengurus Sadulur Garut dan Ketua Yayasan Adat Kampung Dukuh.

Untuk mewujudkan itu, Aom mengajak kepada seluruh insan seni dan budayawan Kabupaten Garut menyatukan langkah dan pemikiran untuk bisa mewujudkan Perda Perlindungan Seni Budaya tersebut.

Melalui organisasi Sadulur Garut, Aom juga berencana mendiskusikan hal ini dengan berbagai pihak terkait. (SMS)***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here