Puisi-Puisi Aditya Ansor Alsunah

SAJAK ORANG MISKIN

Wahai para pemimpin

Lihatlah!

Kemiskinan masih berserakan

Dengarlah!

Jerit tangis debu jalanan.

Tidakkah kau dengar?

Nyanyian kehidupan penuh kemelaratan!,

Ombak bergemuruh bagai demonstran

Suara Laut memberontak,

Bertanya arti keadilan.

Apa itu keadilan?

Jika yang tergurat hanya senyum penderitaan.

Yang menghanguskan segala angan dan harapan.

(2018)

 

MERINDU HUJAN

Sungai lunglai mulai sekarat

Semak belukar menguning sesak

Pohon di ladang menjerit pilu

Ribuan daun jatuh  ke tanah

Hingga tanah mengeluh lemah

Ranting-ranting menjadi saksi

Bahwa air tak pernah lagi menyentuh bumi

Mata air mengerang

Cakrawala dan awan berbincang,

Kapan hujan akan datang?

Garut, 22 Oktober 2018

 

ENTAHLAH

Pagi ini masih sama tak ada yang berubah

Masih seperti pagi kemarin

Tanpa lukisan senyuman

Tanpa sapa rayuan

Hanya sekadar nyanyian burung yang menggoda sukma.

Seakan memaksa bangkit dari peraduanku.

Mentari mulai nampak dengan senyuman mesranya.

Ditemani cakrawala yang menatap dengan mata sinis.

Menyaksikan diriku yang meringis.

Daun melambai penuh gairah.

Seakan berkata bahwa aku jangan menyerah

Ini masih pagi

Jangan merasa sakit hati

Karena malam telah pergi.

Ya sudah lah!

Biar kujalani saja.

(2018)

 

SUDAHLAH

Janji manismu membuat kami muak!

Harapan yang kau umbar

Hanyalah sebuah awa dari penderitaan kami.

Saya akan mensejahterakan rakyat!

Saya akan menambah lowongan pekerjaan untuk rakyat!

BOHONG!!!

Itu hanyalah pemanismu saja.

Kedepannya sama saja,

Kau lupa akan tugasmu.

Kau lupa akan janjimu.

Sudahlah kami tak percaya lagi!

(2018)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here