Mengetahui akan Diberi Upah Rp 75 per Lembar, Petugas Sorlip Surat Suara Ramai-ramai Mundur

garutexpress.id –  Perhelatan hajat demokrasi, Pemilu 2019 tinggal menghitung hari. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Garut terus menggenjot proses penyortiran dan peliptanan (Sorlip) surat suaara. Harapanya agar logistik bisa secepatnya didistribusikan sebelum Pemilu digelar.

Namun, di tengah pelaksanaan sorlip surat suara, ratusan petugas sorlip malah ramai-ramai mengundurkan diri. Aksi penguduran diri petugas sorlip ini ditenggarai akibat mengetahui upah utuk pekerjaanya itu terlalu minim.

HS (55) salah seorang petugas sorlip mengakui, pada awalnya bersemangat untuk bekerja menyortir dan melipat kertas suara. Namun, sejak KPU mengumumkan bahwa upah sorlip per lembarnya hanya Rp 75, kekecewaan pun menyeruak. Dan saat itu juga banyak petugas sorlip yang memutuskan mengundurkan diri .

Diakuinya, ebelumnya mereka tidak tahu akan diberikan upah sorlip hanya Rp 75 per surat suara. Dari informasi yang mereka dengar sebelumnya, mereka akan menerima bayaran Rp 100 untuk setiap lembar surat suara.

“Sejak awal kami memang tak mendapatkan penjelasan jika kami hanya akan diberi upah Rp 75 dari setiap surat suara yang kami sortir dan lipat. Kami dengar sebelumnya, tiap lembarnya akan dibayar minimal Rp 100 sehingga ketika tahu hanya Rp 75, kami kecewa dan akhirnya banyak  mengundurkan diri,” ungkapnya, Kamis (14/03/2019).

Gara-gara mengetahui upahnya hanya Rp 75, sekira 60 persen petugas sorlip memilih mengundurkan diri.

Sekretaris KPU Garut, Ayi Dudi Supriadi, membenarkan banyaknya petugas sorlip yang mengundurkan diri . Hal ini dikarenakan jasa premi sorlip yang dianggap terlalu kecil yakni hanya Rp 75 per lembar.

Ayi menyebutkan, para pertugas juga menyebutkan tingkat kesulitan dalam pengerjaan sorlip surat suara untuk Pemilu 2019 ini dinilai terlalu besar dibandingkan dengan surat suara waktu Pilkada.

Meski jumlah petugas sorlip yang mengundurkan diri cukup banyak, menurut  Ayi, hal ini tidak akan berpengaruh terhadap jadwal pendistribusian logistik ke daerah. Hal ini dikarenakan animo masyarakat untuk menjadi petugas sorlip yang sangat tinggi sehingga tak sulit untuk mencari petugas yang mengundurkan diri.

“Tidak berpengaruh sama sekali terhadap jadwal pendistribusian karena animo penyortir lebih banyak dari yang seharusnya. Dari total kebutuhan yang hanya mencapai 1.500 orang, ternyata peminatnya jauh lebih besar yakni mencapai kurang lebih 3 ribu orang,” katanya.

Dijelaskannya, kendala utama saat ini sebenarnya bukan petugas yang mengundurkan diri tapi ketersediaan gudang yang terbatas. Saat ini KPU memiliki tiga gudang akan tetapi semuanya diisi logistik Pemilu sehingga sulit untuk mencari tempat sorlip surat suara.

Diakuinya, upaya  KPU untuk mempercepat pendistribusian logistik yang berada di luar kotak suara kepada PPK di antaranya dengan cara meminjam GOR Beladiri Ciateul. Rencananyam GOR tersebut akan digunakan untuk perakitan kotak suara sehingga nanti gudang yang ada di Pasirmuncang dan di Copong dapat digunakan untuk kegiatan sorlip surat suara.

Hal senada didampaikan Ketua KPU Garut, Junaidin Basri. Untuk mempercepat proses sorlip, pihaknya akan mengoptimalkan outshorshing yang ada dengan memperpendek gilirannya.

“Dari yang tadinya diatur per minggu, nanti bisa dirubah menjadi per 2 atau 3 hari jadwal  sorlip,” ucap Junaidin. (Ahen)***

Editor: ER.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here