Memanah dan Berkuda Ekskul Favorit di STPKU Daruth-Thalibin Al Ayubi

Galeri fhoto kegiatan eksul para santri di SRPKU Daruth Thalibin Al Ayubi, Jalan Raya Cipanas, Desa Langensari, Kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut./foto:Cep/GE.***

garutexpress.id – Sekolah Tahfidz Plus Khaeru Ummah (STPKU) Daruth-Thalibin Al Ayubi, adalah sebuah sekolah berbasis pendidkan Islam yang mengedepankan pendalaman Al Qur’an. Sekolah yang baru didirikan pada bulan Juni 2017 ini terletak di kawasan Kompleks Pondok Pesantren Daruth-Thalibin, Jalan Raya Cipanas, Desa Langensari, Kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut.

Meski belum lama didirikan, sekolah tahfidz plus yang baru membuka kelas setingkat sekolah dasar ini mulai tempak geliatnya. Dengan menerapkan sistem pendidikan semi boarding school, sekolah ini mulai banyak dilirik orang tua peserta didik.

Menurut Ustadz Asep Suryana Al Pasundani, salah seorang tenaga pengajar di sekolah ini, STPKU Daruth-Thalibin memiliki sistem pendidikan yang khas berbeda dengan sekolah lainnya.

“STPKU memang memiliki sistem pendidikan yang khas, berbeda dengan sekolah lainnya. Selain digenjot menghafal Al Qur’an, anak-anak (peserta didik/red.) juga secara kontinyu diberikan pemahaman tentang isi Al-Qur’an. Dengan demikian anak-anak diharapkan sedikit-sedikit bisa menerapkan apa yang terkandung dalam Al Qur’an dalam kehidupan sehar-hari,” ungkapnya, belum lama ini.

Dikatakannya, kelengkapan lain dalam pendidikan di STPKU diantaranya pendidikan sains teknologi terapan yang membuat anak didik bisa “enjoy” dalam belajarnya. Misalnya, anak didik di STPKU diajak belajar mengenal alam secara langsung di alam terbuka.

“Alhamdulillah, di sini (STPKU) memiliki tenaga pengajar yang ahli di bidangnya. Misalnya, untuk guru sains dan teknologi kita memiliki tenaga pendidik lulusan IPB. Anak anak bisa belajar di alam terbuka secara langsung sehingga bisa enjoy dalam belajarnya,” katanya.
Selain mengahafal dan belajar Al Qu’an, di STKPU Daruth-Thalibin Al Ayubi para peserta didik juga bertambah kerasan berlama-lama tinggal di sekolah dengan ekstrakurikuler (ekskul) menarik. Eksul menraik dan kini menjadi favorit para peserta didik itu tak lain adalah olah raga memanah dan berkuda.

“Ya, ekskul memanah dan berkuda memang telah menjadi olah raga favorit anak anak. Rasulullah SAW memerintahkan ummat Islam untuk mengajari anak-anak berenang, memanah dan berkuda,” ujarnya.

Asep menambahkan, selain sunah Rasul, olahraga memanah dan berkuda memang sangat bermanfaat untuk membentuk karakter anak sejak dini.

“Namun Rasulullah SAW tentu bukan sedang berkata-kata menurut hawa nafsunya. Beliau lebih memprediksi keadaan di masa depan. Selain manfaat filosofis juga fisik yang bisa kita dapatkan, olah raga yang direkomendasikan Rasulullah SAW ini tentunya dapat kita terapkan pada konteks kekinian. Misalnya terbentuknya karakter anak secara maksimal sehingga anak- dapat mengenyam pendidikan terbaik sesuai dengan kebutuhan mereka di jamannya,” jelasnya.

Ustadz Asep menjelaskan, olahraga memanah dapat melatih emosi untuk menempatkan ‘target’ pada satu sasaran. Jika emosi kita terganggu, sudah pasti target akan mudah melenceng.
“Secara tidak langsung olahraga ini melatih kita untuk belajar tenang dan mengendalikan emosi. Seseorang yang tidak tenang, gugup, pemarah, kurang sabar bukanlah seorang pemanah yang baik,” tandasnya.

Menurut Asep, memanah juga sangat menitikberatkan keseimbangan tubuh. Pada saat melenturkan anak panah di busurnya, kemudian melepaskannya perlu ada kekuatan fisik. Olahraga ini juga dapat membangun fokus dan konsentrasi dalam menyemai rasa tanggung jawab dan disiplin diri, meningkatkan jati diri dan keyakinan pribadi.

“Orang yang memiliki banyak karakter pribadi seperti ini InsyaAlloh akan mudah melewati segala rintangan dalam hidupnya,” katanya.

Untuk olahraga berkuda, Uztadz Asep menguraikan bagaimana manfaat dari berkudka ini, diantaranya bentuk lekuk tubuh belakang kuda (tempat yang diduduki), sangat baik untuk merawat segala masalah tulang belakang manusia. Saat pergerakan galloping yaitu saat kuda melompat dan berlari menyebabkan pergerakan vetebra tulang belakang kita yang bersentuhan antara satu sama lain dalam kondisi harmonis, dan merangsang saraf-saraf tulang belakang, seolah-olah diurut.

“Sedangkan pakar kesehatan pun tidak mampu membuat seperti gerakan alami tulang-tulang veterbra saat orang menunggang kuda,” tukasnya.

Dikjelaskan Ustadz Asep,penunggang kuda yang hebat biasanya bebas dari mengalami sakit punggung. Selain itu, kuda juga mencerahkan mata sebab ada rangsangan terhadap saraf kranial saat gerakan ‘galloping’ kuda. Secara fisik kuda tentu lebih kuat dari penunggannya, namun sang penunggang tetap harus menguasai kuda tersebut agar dia bisa sampai ke tujuannya.

“Demikian pula dalam kehidupan manusia. Kita sering kali harus memimpin orang-orang yang lebih pintar, lebih kuat dan lebih banyak memiliki kelebihan dibanding kita. Berkuda dalam hal ini adalah simbol dari hidup dan pengendalian diri, rasa percaya diri plus keberanian,” pungkasnya. (Cep)***


Berita Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here