Kisah Sopir Grab, Kerap Diajak Kencan PSK yang Tak Punya Ongkos

Arif Garoeti (driver grabcar) berfose di depan mobil kreditannya./ foto: doc. Arif.***

garutexpress.id – Menjadi sopir angkutan umum sama sekali bukanlah cita-citanya. Obsesi sejak kecil sebenarnya adalah ingin menjadi seorang dosen filasafat seperti Prof. Rocky Gerung. Namun takdir hidup berkata lain, seiring berjalannya waktu, duda berusia 45 tahun ini kini menggantungan hidupnya menjadi seorang sopir angkutan mobil umum online. Lebih kerennya biasa disebut driver grabcar.

Adalah Arif Garoeti, pria berperawakan sedang ini sudah dalam beberapa tahun ini menggeluti profesinya sebagai driver grabcar  di kawasan Garut dan sekitarnya. Tak terhitung sukanya, meski dirasa banyak pula dukanya Ia tetap menjalaninya dengan penuh rasa syukur.

“Ya, mau dibilang apa lagi atuh kang, meski menjadi sopir itu bukan cita-cita saya. Namun ini merupakan jalan hidup yang harus dijalani. Yang penting bersyukur, dan tetap berikhtiar mencari rizki yang halal,” ujar Arif, saat ditemui garutexpress.id di sebuah kedai mie ayam, kawasan Garut kota, belum lama ini.

Arif mengaku, sebelum menjadi driver grabcar Ia sempat menekuni bisnis perkayuan. Sayang bisnis di bidang kayu harus Ia tinggalkannya karena merugi terus.  Sejak ramainya aplikasi angkutan umum  brbasis online, Arif pun mencoba peruntungannya di sini.

“Sempat juga bisnis bidang perkayuan. Namun tekor terus, gak pernah untung. Itulah bedanya saya dengan pak Jokowi. Kalau pak Jokowi mah dari tukang meubel jadi Presiden, nah saya mah dari tukang kayu jadi sopir grab,” ucapnya, seraya terbahak.

Seabreg kisah unik selama berkelana dengan mobil kreditannya sudah dirasakan penggemar binatang tokek ini. Mulai dari bertemu penumpang ABG gak jelas, ibu-ibu sosialita yang suka pamer harta benda, emak-emak ganjen hingga perempuan cantik penjaja seks.

“Wah, banyak pokonya suka dukanya mah kang. Mulai dari bertemu penumpang sok gaya, ABG gak jelas, emak-emak ganjen hingga bondon (PSK/red.) yang ngajak kencan gara-gara gak mau bayar ongkos,” tukasnya.

Diakuinya, selama menjalani profesinya, pengalaman yang paling sering Ia temui adalah bertemu dengan penumpang “kupu-kupu malam.” Wajar saja, karena dirinya sering mangkal cari penumpang di malam hari. Menurutnya, memang penumpang di malam hari lebih banyak jika dibandingkan siang hari, terlebih saat hujan.

“Mungkin karena malam hari kali ya. Jadi saya sering bertemu perempuan gak jelas. Tapi memang penumpang di malam hari itu agak banyak jika dibanding siang hari. Bahkan saya sempat mendapatkan uang sampai sejuta semalam. Kalau siang paling banter 150 rebu, itu sudah penghasilan bagus. Demi mengejar setoran semua saya jalani saja,” ungkapnya.

Arif mengisahkan, dalam seminggu nge-grab, Ia bisa ketemu penumpang yang berprofesi sebagai penjaja seks komerisial, 2 sampai 3 kali. Para penumpang itu diakuinya kerap meminta diantar karena mengaku gak punya ongkos.

“Sering kang, dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali ada penumpang PSK. Biasanya minta diantar tapi ngaku gak punya ongkos. Ada pengalaman, saat itu sekitar jam 11 malam, ada dua orang penumpang perempuan cantik cantik, mulus-mulus berusia sekitar 30 tahunan. Keduanya minta duduk di depan. Belum separuh perjalannan, ia malah mengakat rok mininya, lalu memperlihatkan pahanya dan berkata-kata dengan genitnya. Dada saya memang berdegup kencang, namun dalam hati saya istighfar. Saya sih bukannya tergoda, malah saya kasihan sama mereka. Ya, saya antarkan saja gratiss. Saya anggap saja sedekah,” ungkapnya.

Arif juga mengisahkan, pernah beberapa kali mobilnya ditumpangi PSK yang menangis sesegukan saat di perjalanan. Saat ditanya, ternyata ia mengaku pulang gak bawa uang karena gak ketemu “pelanggannya.” Padahal si PSK ini mengaku harus membiayai anaknya yang masih sekolah.

“ Saat itu menjelang subuh, pernah ada penumpang PSK, saat dalam perjalanan nangis terus sesegukan. Pas saya tanya, ia mengaku gak dapat uang, padahal di rumah anaknya menantikan ibunya pulang dengan membawa uang untuk biaya sekolah. Saat itu saya terharu. Karena kasihan, saya sedekahkan separuh penghasilan saya malam itu. Udah ya kang, ini ada penumpang,” pungkasnya, seraya menyentuh-nyentuh smartphone-nya.

Arif tampak tergesa-gesa, meninggalkan kedai mie ayam untuk menemui penumpangnya yang sudah menunggu. Minibus yang telah distaternya pun melaju kencang meninggalkan kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Garut kota yang saat itu mulai diselimuti awan pekat.  (ER)***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here