Igel Burayot hingga Angklung ABK Siap Meriahkan “Gebyar Dikbud Garut 2019”

garutexpress.id – Aneka ragam pertunjukan seni budaya bakal memeriahkan pentas hiburan “Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Garut 2019”, Sabtu (23/3/2019), di halaman Gedung Pendopo. Dari mulai solo vokal, vokal grup, pencak silat, jaipongan, drum band, domba catwalk, hingga kolaborasi musik bertajuk “Ceurik Cimanuk”.

Penampil lain yang tak kalah menarik, yaitu “Igel Burayot”. Persembahan dari para siswa SMAN 2 Garut (SMAN Leles-red). Bisa ditebak, tarian ini memang menceritakan tentang makanan khas warga Kecamatan Kadungora dan Leles.

Menurut sang koreografer, Ajeng Ningrum Kurnia, S.Pd, tarian ini memang terilhami oleh makanan khas burayot. Kenapa burayot, bukan dorokdok, opak, atau dodol. Ajeng beralasan, untuk mengapresiasi kekayaan khazanah kuliner dari tempat kelahirannya.

“Namanya juga unik, burayot. Setiap saya bepergian dan membawa oleh-oleh, mereka selalu menanyakan namanya. Saya jawab, burayot. Dan mereka pasti tersenyum,” terang Ajeng kepada garutexpress.id, Jumat (22/3/2019).

Ia pun berkisah. “Igel Burayot” sengaja diciptakan untuk jenis tari berpasangan, saat para siswa SMAN 2 Garut akan mengikuti kegiatan FLS2N  tingkat SMA se-Kabupaten Garut, medio Februari 2018.

Selain merebut gelar runner up FLS2N, pada 20 Agustus 2018 “Igel Burayot” juga terpilih menjadi salah satu seni yang akan direvitalisasi, pada saat Gelar Seni Tradisi Atraksi Budaya  yang diprakarsai Kemendikbud bekerja sama dengan Pemkab Garut.

“Igel Burayot” mengisahkan tentang sosok sekelompok remaja yang aktif dan kreatif. Untuk menghilangkan kejenuhan dan mengisi waktu luangnya, mereka melakukan kegiatan bermamfaat membuat “burayot“.

Gerak tari menggambarkan pula bagaimana saat kue “burayot” menari-nari di kolam minyak yang panas di dalam wajan/katel.

Ada pesan moral yang ingin disampaikan melalui tarian ini. Sebagai pemuda generasi bangsa, harus aktif dan kreatif. Jangan berleha-leha apalagi terbawa arus zaman yang negatif. Gunakan waktu luang untuk kegiatan positif. Harus percaya pada kemampuan sendiri, optimis, jangan pesimis.

“Juga harus berani memulai, walau hasilnya kecil ataupun gagal. Terus, terus dan teruslah berusaha. Syukuri segala apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita,” papar guru Seni Budaya SMAN 2 Garut ini.

Tidak hanya itu, para siswa berkebutuhan khusus juga dipastikan memeriahkan acara yang akan dihadiri Mendikbud, Prof. Muhadjir Effendy, tersebut. Mereka merupakan gabungan dari enam SLB. SLB Muhammadiyah Karangpawitan,  SLB YKB A, SLB YKB C, SLBN B, SLB Al-Barkah, dan SLB Al-Masduki.

“Ada 40 siswa gabungan 6 SLB, berbagai ketunaan. Mulai tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, dan autis,” terang pelatih seni angklung SLB Muhammadiyah, Bagus Kusnadi, S.Pd, M.M.Pd, kepada garutexpress.id, usai gladiresik, Jumat (22/3/2019) sore.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 31 siswa berperantugas memainkan angklung. Siswa lainnya memainkan gitar, keyboard, dan gambang angklung.

“Konduktornya merupakan anak penderita tuna grahita ringan. Namanya Jaka. Dia merupakan kunci bagi para pemain lainnya,” terang Bagus.

Bagus  mulai coba melatih ABK memainkan angklung sejak tahun 2017. Awalnya terbatas di SLB Muhammadiya Karangpawitan. Kemudian ia mengajak SLB lainnya, septerti SLB YKB A, SLB YKB C, SLBN B, SLB Al-Barkah, dan SLB Al-Masduki.

Alhamdulliah, lanjut Bagus, kolaborasi dengan sekolah lain bisa lebih baik lagi. Alhamdulillah job tampilan angklung ABK mulai dikenal banyak orang, oleh instansi-instansi pemerintah, Disdik, juga Disparbud,” jelasnya.

Penasaran? Saksikan saja langsung “Gebyar Dikbud Garut 2019”. Acara tersebut akan digelar sehari suntuk, Sabtu (23/3/2019), di halaman Gedung Pendopo Garut. (SMS)***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here