“Hutan Hati Hilang”

“Hutan Hati Hilang”

oleh:  Anne A. Permatasari

SAAT tiba di kampungku senja itu,  aku menatap ke arah bukit. Bertahun lamanya, kutinggalkan hijau pepohonan, padi yang menguning, merah cakrawala, senyap senja, gemercik pancuran, dan nyanyian satwa. Semuanya kerap berpadu menjadi simponi merdu dari hari ke hari.

Pematang sawah kampungku berundak-undak. Budaya warisan leluhur yang paham akan kearifan lokal. Tak kalah indah dengan pemandangan di Ubud Bali.  Punggung gunung setia menjaga sengkedan agar padat. Saling menopang agar tak longsor.  Pepohonan berbaris rapi. Bahkan jika akhirnya harus condong, mereka kompak sesuai arah tiupan angin.

Begitu pula, jalan setapak. Dia setia pada becek dan rerumputan yang tumbuh saat penghujan. Tak pernah mengenal paving block, semen, apalagi tembok beton. Jika kemarau panjang atau penghujan tiba, debu dan tanah liatnya lengket ke ujung celana. Sesekali lekat ke pantat celanaku. Seperti waktu itu. Saat aku-kami terpeleset  bersama ketika bercengkrama. Kami tertawa demikian lepas. Tawa itu, tawa lama, milik masa remaja.

Semua kenangan itu, hilang kini.

Di depan mataku, undakan sawah sirna. Tebing bukit hijau terikis habis.  Entah kemana ribuan ton pasirnya berpindah tempat. Jalan beton bersilangan. Kicauan burung dan hewan kecil, penghuni hutan itu pun, berubah menjadi deru traktor, pengeruk bongkahan batu, dan truk pengangkut pasir.

Ya, semua telah punah. Seperti kenangan kami.

****

“Datang sajalah! Aku akan kumpulkan semua teman semasa kita “ngurek” belut  dulu.  Kau ingat Maman, Si Penakut yang kerap nangis kalau kita pura-pura kita tinggalkan di hutan kecil itu?  Dia kini jadi polisi di desa kita. Harun, kawan terbadung, jagoan kita saat mengambil mangga muda di pohonnya Pak Karim? Setelah dikirim ayahnya ke pesantren dulu, kini dia jadi guru ngaji anak-anak. Yusak yang pendiam itu? Dia meninggal setahun lalu.  Dan kau? Orang bilang, katanya sudah menjadi pegawai perusahaan. Syukurlah… aku senang. Semua sudah memiliki kehidupan sendiri.  Setidaknya, akulah yang sampai saat ini tetap setia menjalani kehidupan leluhur kita, menjadi petani penggarap,” sahut Darman.

Saat itu, kukabarkan kepadanya bahwa aku kangen pada sahabat-sahabat masa kecilku di desa. Kusampaikan pula bahwa aku baru mendapatkan nomor gawainya. Kebetulan,  pegawai baru di kantorku berasal dari kampung kami. Itu alasan bohong sebenarnya.  Aku punya alasan lain untuk menjenguknya.

Ini sebuah kunjungan istimewa, semenjak ibu meninggal, empat tahun sesudah aku mengikuti paman ke kota untuk melanjutkan sekolah ke SMA.

“Kapan kau datang?” tanya Maman memberi pelukan hangat.  Kami berempat duduk melingkar meja kayu di beranda rumah Darman.

“Tadi malam, aku baru saja menginjakkan kaki di rumah peninggalan ibu,” jawabku.

Rumah tua yang tak berpenghuni itu masih dalam kondisi baik. Awalnya, pamanlah yang menggaji Mang Halim untuk merawatnya. Setelah aku bekerja, kewajiban itu, berpindah ke pundakku. Tak apa. Setidaknya, aku punya alasan lebih untuk membantu perekonomiannya. Bagaimana pun,  setelah kutinggalkan sekolah ke kota, keluarga Mang Halimlah yang menemani Ibu sampai tutup usia.

Aku tak tergerak untuk menjualnya. Rumah peninggalan ibu untuk anak semata wayangnya itu, biarlah menua dengan sendiri. Sekadar untuk  memelihara kenangan pada masa kecilku yang sederhana. Masa remaja kuisi di kota, dan masa dewasa yang tak sekejap pun kulalui di sana.

“Mengapa kau baru datang?  Setelah dusun kita berubah menjadi kota persinggahan.   Kota tak beridentitas sendiri. Hanya sebagai tempat singgah proses perubahan. Tak bisa bertahan untuk mempertahankan hasilnya. Tak bisa mencapai kota besar dengan kehidupan yang lebih baik,” begitu ungkap Harun yang masih terheran dengan  kedatanganku.

“Ya,  desa kita telah menjadi kota tak berpengaharapan.  Setelah semua kekayaan dikeruk habis,  maka kita pun akan ditinggalkan dengan dataran kering tak bertonggak lagi.  Longsor mengintai manakala hujan besar tiba.  Dan panas memanggang saat kemarau berjaya.  Desa kita ini, Sobat,  bukan lagi desa tujuan masa tua. Aku pun tak lagi berharap banyak selain menunaikan tugasku saja,” ujar Maman.

“Begitulah, tapi perubahan desa kita membuatku beralih kemudi.  Kita semakin tua,  Sobat! Kalaulah desa kita akan hilang dari peradaban,  maka aku telah menggoreskan sedikit saja kenangan. Di sini,  anak-anak telah kuhela mengenal pengajian yang telah lama hilang. Hilang seiring perginya para penghuni surau dulu.” Harun menimpali.

“Dan dari semua di antara kita,  kupikir akulah yang paling setia pada tanah kelahiran.  Meski nanti mata air enggan keluar dari bumi, aku tetap bertahan menjadi petani,” ujar Darman.

Mau tak mau, aku tersenyum. Baru sewindu kami berpisah, semua telah berubah.

“Ya,  kalian semua adalah pemilik udara di desa kita ini.  Kalianlah saksi berbagai perubahan itu.  Aku tidak!  Bahkan kupikir,  aku tak kan lagi menginjakan kaki di sini!”

“Dulu kau dan Maman meninggalkan kami untuk menuntut ilmu di kota. Kami bangga karena sebagian dari kita hanya cukup mengenal baca dan tulis sekadarnya. Tapi lalu kau lupa pada tanah kelahiran! ”

“Kau seperti pecundang, Sobat! Hanya karena gadismu juga pergi ke kota, kau tak mau balik. Atau jangan-jangan kau bertemu lagi dengannya di sana?”

Aku terkejut. Jadi benar, dia pergi setelah aku meninggalkannya berlinangan air mata.

Ingatanku kembali ke masa itu….

****

“Aku kan kuliah, ” ujarku meredakan air matanya. Itu terakhir kalinya kami bertemu dalam kurun waktu berduka akibat wafatnya ibu

“Kau tak kan kembali pasti. Di kota, pasti akan punya kekasih baru!” Aku hampir tertawa. Perempuan sahabat masa kecilku ini, memang menambat hatiku.

“Aku akan kembali. Kalau kita berjodoh, aku akan melamarmu. Kita  akan membangun masa tua di sini. Sabarlah… lagi pula,  kita kan masih sangat muda. Kau mau menungguku?” Dia mengangguk.  Aku melihat keraguan di hatinya.

Bukan ragu atas perasaanku kepadanya.  Bukan ragu akan kemampuannya bertahan.  Dia ragu atas nasib yang tak pasti. Ragu atas kehidupan keluarganya sebagai petani penggarap. Sementara,  di luar sana, peradaban mulai mencabuti kehidupan. Kehidupan orang-orang miskin seperti dia.

Waktu tak bisa menjamin semua  perasaan itu.  Cinta perlahan pudar. Kemiskinan telah membuatnya menggadaikan semua masa depan dan impian remaja kami.  Kemiskinan membuatnya harus keluar dari desa. Menggapai mimpi tanpa keterampilan.

Dia hilang tanpa berkabar berita.

***

“Kata orang, dia bekerja di kota,” ujar Darman.

Ya. Orang-orang datang seiring dengan majunya penambangan pasir di daerah kami. Merekalah yang pasti menemukan para perempuan putus sekolah terkukung di dalam rumah atau surau.

Tanpa impian masa depan, para perempuan itu begitu rapuh.  Orang-orang pasti telah merayunya dengan iming-iming pekerjaan mudah dan berpenghasilan jelas.

“Beberapa gadis pergi, tapi kekasihmu itu, menolak. Tapi kemudian, selang beberapa saat setelah ibumu meninggal, dia pun pergi pula.”

“Kembang desa kita itu telah menjemput takdirnya. Tak ada kabar tentangnya lagi. Konon ada yang mengatakan dia bekerja di perusahaan besar. Ada juga yang menyebutnya menjadi istri simpanan seorang bos. Entahlah, yang jelas,  kau lihat rumah megah, bercat putih, berornamen kuning keemasan di pertigaan kampung kita?  Di sanalah,  orang tuanya tinggal dengan sekarang.”

Jadi, kekhawatiranku sepertinya, benar sepertinya.

“Oh…. ” suaraku tak tahu bermakna apa.

“Kemana saja kau memangnya? dan mengapa tiba-tiba saja kau mau datang?”

‘Mengapa aku tiba-tiba saja mau datang?’

Ya, pertanyaan itu, mengganggu pikiranku.

Sore itu, peristiwa selepas pulang dari kantorlah penyebabnya. Dari televisi, kulihat berita tentang prostitusi di kalangan artis yang marak terjadi.

Beberapa mucikari bertutup mata hitam, diwawancarai. Di latar belakang, tayangan para artis yang terlibat, dibidik dengan sempurna.

Sedikit pun, meski penampilannya berubah, aku tak tertipu. Tak bisa kuingkari ingatanku tentang dia.

Perempuan desa yang sederhana. Pelantun ayat suci yang fasih. Yang kutinggalkan dengan setangkai janji.  Perempuan yang kupikir akan setia menungguku mewujudkan janji. Perempuan yang telah meninggalkannya tergantung rapi di bilik rumah. Bilik yang telah berganti tembok gedung mewah berornamen keemasan. Dia telah lelah pada penantian yang tak pasti.

Kepedihan dan kesengsaraan telah merayunya. Keduniawian yang mahadasyat telah menggempurnya. Menjanjikan mimpi pada perempuan-perempuan muda, miskin  pengalaman. Menjebaknya pada kemeriahan kota besar.

Mereka tak pernah tahu, kota besar adalah rimba tak kenal belas kasihan. Hanya orang terpilih yang mampu menaklukkannya. Baik dengan kecerdikan atau dengan kenekatan. Perempuan lugu kekasih masa kecilku itu telah terbujuk rayu. Dia hilang dan tak tentu rimba.

Tebing hijau tempat kami memadu janji, telah musnah. Harapan terbang, dan hutan hati pun hilang.

(Tutugan Leles Garut, 020219)***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here