Diiming-Iming Uang, Siswa SD Di Tasik Dicabuli Dua Kakek

Diiming-Iming Uang, Siswa SD Di Tasikmalaya Dicabuli Dua Kakek

Garutexpress.id – Tiga lelaki hidung belang yaitu SA (65), EB (64) dan HE (38), warga Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya tega mencabuli Love Bird (nama samaran) siswa kelas VI SD. Kejadian itu terungkap saat Polres Tasikmalaya menerima laporan dari ibu korban, Senin (25/3/2019).

Dari pengakuannya anaknya sering mengeluh sakit di bagian kemaluan. Ketika ditanya, sang anak tidak mengakui telah disetubuhi. Namun setelah dipaksa, korban mengakui menjadi korban cabul yang dilakukan SA, EB dan HE.

“Ibu korban datang melapor, bahwa anaknya menjadi korban pencabulan tiga orang tua,” ujar Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Pribadi Atma kepada wartawan, Selasa (26/3/2019).

Usai mendapat laporan, Selasa (26/3/), Satreskrim Polres Tasikmalaya langsung meringkus ketiga pelaku dirumah masing- masing. Ketiganya mengakui telah melakukan aksi pencabulan terhadap Love Bird. Kejadian berlangsung berbagai tempat seperti di gubuk dan di rumah korban.

Pribadi menjelaskan ketiga pelaku menyetubuhi korban tidak dilakukan secara bersamaan. Yang pertama kali menyetubuhi korban adalah SA (65) pada Oktober 2018 hingga awal Maret 2019.

“SA empat kali menyetubuhi korban. Dilakukan di kebun, saung di lahan pertanian dan rumah korban ketika kosong,” jelasnya.

Sebelum mencabuli, SA merayu dan mengiming-imingi korban dengan uang senilai Rp 20 sampai 30 ribu. Kedua yakni EB (64). Dia hanya satu kali menyetubuhi korban di sebuah gubuk kebun awal 2019.

EB tahu dari SA, bahwa korban bisa dibujuk untuk disetubuhi dengan diberi uang jajan. Syahwat EB pun muncul dan melakukan aksi bejatnya terhadap korban.

Adapun pelaku lain HE (38), kata Pribadi, tidak menyetubuhi korban. Dia hanya meraba-raba tubuh hingga memasukan jari tangan ke kemaluan korban. “Jadi modus ketiga pelaku, dengan bujuk rayu memberikan uang jajan. Korban, masih kelas VI SD, jadi masih lugu,” paparnya.

Pribadi menegaskan ketiga pelaku dijerat Pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Kita sudah amankan dan kita tahan di rumah tahanan Polres Tasikmalaya,” terangnya.

Kanit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya Aiptu Josner Ali SH menambahkan agar memenuhi dua unsur alat bukti, pihaknya akan melakukan visum terhadap korban. “Untuk satu alat bukti sudah didapat, keterangan korban dan pelaku sudah menjadi dasar alat bukti,” ungkapnya.

Menurut Josner, korban nantinya akan mendapat pendampingan dari psikolog untuk mengembalikan psikis jiwanya. “Psikolog akan membantu agar kejiwaan korban bisa normal, supaya traumanya bisa dipulihkan,” tambahnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto SIP menekankan pengawasan orang tua yang harus respons terhadap gerak-gerik dan lingkungan anak bermain.

“Soal kasus di Jatiwaras ini, pentingnya peran pengawasan orang tua terhadap anak harus dilakukan. Korban sering bermain sendiri, jadi tidak ada pengawasan,” ungkap Ato.

Menurut Ato, peristiwa kekerasan terhadap anak ini sering dilakukan oleh orang dekat, seperti saudara tetangga dan teman di lingkungan anak tersebut bermain. “Maka sudah selayaknya orang tua mengawasi anaknya, sebab tingkat kejahatan terhadap anak sangat gampang dipicu,” katanya. (AI)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here