Di Saat Tenaga Honorer Lain Ribut tentang PPPK, Asep hanya Bisa Mengelus Dada

ASEP Tedi Guntara, TU honorer SMPN 2 Cisewu, terpaksa nyambi menjadi tukang ojeg untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (Foto : Istimewa)***

garutexpress.id – Di tengah hirup pikuknya persoalan rekrutment calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja  (PPPK)  terutama bagi guru, penyuluh pertanian, dan tenaga kesehatan, honorer K2 dari Tata Usaha (TU) hanya bisa mengelus dada.  Pasalnya, hingga saat ini belum  ada tanda-tanda akan dipangggil mengikuti seleksi PPPK atau  dibuka formasi untuk tenaga TU dari honorer K2.

“Yang lain ramai membahas seleksi PPPK, sementara kami para TU honorer  hanya bisa  tersenyum luka,”  ujar Asep Tedi  Gandara  (41), salah seorang  TU  honorer K2  yang bertugas di SMPN 2 Cisewu,  Garut Selatan,  kepada garutexpress.id, Selasa (5/3/2019).

Harapan Asep untuk bisa meningkatkan taraf hidup dengan direkrut sebagai PPPK tentu masih jauh bisa digapai. Karenanya,  untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya selama ini, Asep terpaksa nyambi sebagai tukang ojeg.  Itu ia lakukan di luar jam kerja, atau saat hari libur.

Menurutnya, pekerjaan tersebut sudah lama ia tekuni lantaran penghasilannya dari sekolah sangat minim.

“Disela-sela jam kosong atau di luar jam kerja, saya harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan mengandalkan jadi tukang ojeg,”  katanya, dengan nada getir.

Diakuinya, upah  sebagai honorer TU tidaklah seberapa dibanding kebutuhan hidup keluarga yang terus merangsak naik.  Di tengah himpitan ekonomi seperti saat ini,  apa boleh buat ia harus mencari akal dan solusi agar keadaan ekonominya tidak semakin terpuruk.

Apalagi, saat ini salah  seorang putrinya mulai duduk di bangku SMK. Tentu, membutuhkan biaya pendidikan tidak sedikit. Itulah yang membuat dirinya terus berupaya membanting tulang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan membiayai pendidikan anaknya.

“Upah dari sekolah kan mengandalkan dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS).  Dan itu turunnya tiga bulan sekali. Seperti saat ini  sudah masuk bulan ketiga dana BOS masih belum turun,” tambahnya.

Padahal, kata Asep, urusan makan dan kebutuhan lain keluarganya tidak bisa ditunda-tunda. Beruntung, Asep memiliki sepeda motor untuk ngojeg. Tidak jarang, sambil berangkat kerja, ia pun sambil bawa penumpang.

Mulanya, Asep berharap ada perhatian dan kepedulian khusus bagi para tenaga honorer K2 seperti dirinya. Setidaknya pemerintah bisa menghargai pengabdian pada bangsa dan negara yang telah mereka tunjukkan selama ini.

“Meski saya bukan guru,  ketika menyaksikan rekan seperjuangan para guru honorer K2 berkesempatan mengikuti testing PPPK  ada saja rasa sedih dan luka dalam hati. Semestinya pemerintah juga memberikan kesempatan yang sama kepada kami,”  harapnya.

Terlebih, jelas Asep, selama ini tidak pernah ada lagi pengangkatan TU menjadi PNS. Akibatnya para TU dan penjaga honorer tidak memiliki kepastian tentang peningkatan status kariernya di waktu ke depan. (Rif/Seno)***

Editor : SMS


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here