Aditya, Sang Kuli Panggul yang Jadi Guru

garutexpress.id –  Tak ada kata menyerah! Begitulah prinsip hidup Aditya Ansor Alsunah (22).

Karena itu, seberat apa pun tantangan kehidupan yang ditemui, dengan tegar ia akan hadapi. Hidup tidak boleh cengeng. Apalagi, karena penulis yang hobi menendang si kulit bundar ini punya cita-cita mulia, ingin membangun sekolah sendiri.

“Ya, kalau Allah SWT mengizinkan, saya ingin mendirikan SMP atau SMA. Saya ingin kembangkan telenta para siswa di bidang literasi, khususnya dalam membaca dan menulis puisi,” ungkap penggemar peuyeum ini kepada garutexpress.id, Jumat (22/3/2019).

Obsesi tersebut cukup beralasan. Pasalnya, mahasiswa semester 6 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yamisa Soreang, Kabupaten Bandung, ini, memang memiliki prestasi lumayan di bidang baca/tulis puisi.

Selain sempat meraih kampiun story telling dan baca puisi, bujangan putra tunggal keluarga Nendi dan Juliani, sempat masuk ke dalam 98 penyair terpilih pada event “Mencari Penyair” tingkat nasional.

Tidaklah heran, pengagum Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, ini, juga punya angan-angan besar. Mewujudkan antologi 1000 puisi karya siswa, dan 1000 puisi karya guru.

“Sekarang mulai dirintis. Ini memang bukan pekerjaan mudah. Tapi saya dan teman-teman di Komunitas Coretan Pena akan berusaha keras mewujudkannya,” kata pria kelahiran Bandung, 3 Desember 1997.

Di samping mengajar, ia memang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan perwujudan antologi tersebut.

Aditya sendiri kini tercatat sebagai guru PJOK dan Bahasa Indonesia di SMP IT At-Tamimi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Ceritanya panjang, bagaimana ia bisa sampai menjadi guru.

Kepada garutexpress.id, Bang Adit – sapaan akrab Komandan Komunitas Coretan Pena ini, sempat mengisahkan perjalanan hidupnya.

Meski seorang anak tunggal di keluarganya, Aditya tak pernah memanjakan diri. Sejak lulus dari MA Alfatah Cikembang (2016), ia mulai belajar hidup mandiri dari titik nol. Agar bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Aditya coba mencari lembaga-lembang funding yang bisa memberikan beasiswa.

Hidup memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Biaya kuliah, memang sudah tidak ada masalah. Tetapi untuk hidup sehari-hari, ia terpaksa harus banting tulang.

Aditya pun memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Menjadi pegawai di tempat isi ulang air mineral adalah pengalaman pertamanya sebagai karyawan dengan upah tak seberapa. Namun itu hanya bertahan tiga bulan. Ia pun banting stir menjadi seorang buruh kuli panggul di sebuah toko bahan bangunan.

Di saat senggang pekerjaan, hobinya menulis puisi tetap ia lanjutkan. Satu demi satu karya puisi pun lahir dari coretan penanya.

Ketika kembali ke kampung halamannya, ia melihat banyak anak sekolah berkeliaran di saat jam belajar. Saat dikomunikasikan dengan pihak sekolah, ia malah ditawari untuk ikut mengajar di sana.

Ibarat gayung bersambut. Aditya yang sejak lama memendam impian menjadi seorang guru, serasa mendapatkan angin segar. Ia pun akhirnya memutuskan bergabung di SMP IT At-Tamimi. Karena dianggap piawai bermain sepak bola dan menulis puisi, Aditya pun dipercaya memegang mata pelajaran PJOK dan Bahasa Indonesia. (SMS)***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here